Allah hamba tahu segalanya telah tertulis dalam buku takdirMu.
hamba tahu bahwa hamba ini kecil dan tidak bisa berbuat apa apa tanpa Mu.
ajari hamba untuk kuat ya Allah
ajari hamba untuk ikhlas ya Allah
ajari hamba untuk sabar ya Allah
ajari hamba untuk tegar ya Allah
ajari hamba untuk berkhuznudzon padaMu
allah hamba tidak tahu harus berbuat apa.
hamba tidak tahu harus seperti apa
hamba tidak tahu jalan apa yang akn engkau tunjukkan
hamba pun tak tahu kebaikan apa di ujung jalan sana
aku berusaha membesarkan hatiku sendiri
aku berusaha menguatkan aku sendiri
aku berusaha melapangkan hatiku sendiri
aku berusaha mengikhlaskan sendiri
tapi sungguh Allah
sungguh
sungguh
hamba tak mampu....
Kamis, 09 Juni 2011
Sabtu, 21 Mei 2011
musisi jalan
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku
Bento, Bento, Bento
Asyik…!
itulah sepenggal lirik lagu yang sering dinyanyikan para musisi jalanan. Hari ini saya senang, bukan karena ditraktir makan, bukan pula mendapat hadiah tapi hari ini saya melihat lomba para pengamen jalanan di salah satu kota di Jawa tengah. ini pertama kali saya melihat para musisi jalanan mendendangkan lagu ciptaan mereka sendiri. kalau boleh pinjam jempol orang-orang, saya akan lakukan untuk memberi apresiasi kepada mereka.
bukan lagu cinta melulu
bukan lagu yang mendayu dayu
buka pula lagu untuk merayu
mereka mendendangkan lagu politik, lagu tentang penindasan para pejabat kepada rakyatnya, lagu tentang ketidakadilan terhadap nasib rakyat kecil seperti mereka.
mereka memang tidak mengenyam pendidikan tinggi namun mereka mengerti atas ketidakadilan pemerintah terhadap nasib rakyat miskin yang selalu disisikan. lagu mereka seakan akan memberontak meneriakkan nasib mereka selama ini.
ada satu lagu yang agak menyentil bagi saya, lagu tentang mahasiswa yang notabene adalah seorang sarjana yang tidak hanya membanggakan toga mereka namun bisa membanggakan negara dengan menjadi pemimpin yang adil di bumi pertiwi ini.
semoga denganlagu mereka yang menggelitik bisa mengobarkan semangat rakyat untuk menegakkan keadilan di tanah air kita.
Jumat, 20 Mei 2011
mengajar berarti belajar ^^
sore itu tidak berbeda dari sore lainnya, jingga sudah mewarnai langit. seperti biasa, yang kulakukan adalah mencari anak-anak yang mau belajar bersama. seperti biasa kami belajar setiap hari selasa dan kamis. Lain lagi untuk anak yang drop out, kami belajar menambah frekuensi belajar pada hari jumat.
mulai lah saya berjalan di lorong-lorong pasar yang terasa pengap karena barang-barang pedagang yang tidak sebanding dengan ukuran toko mereka. waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 namun toko belum tutup juga, sempat tersisip rasa khawatir kalau anak sudah berkumpul tapi toko belum juga tutup, lalu kami akan belajar dimana. namun kekhawatiran itu saya tepis, saya terus berjalan dan menyebrang jalan besar lalu berjalan di emperan toko, sampailah di suatu tempat di pinggir sungai sejarah di kota ini. tempat itu hanya sebuah warung kecil, namun anak anak selalu berkumpul di sana. bahkan kadang mereka bermain di pinggiran sungai yang terlihat sangat kotor. Sepertinya bau busuk dari sampah di sungai itu tidak memadamkan kegembiraan mereka untuk bermain. Mereka juga tidur di sekitar sana, kalau warung-warung makan di dekat sana sudah tutup, dibersihkan dan dijadikan tempat untuk beristirahat.
kelelahan berjalan terbayar dengan sambutan keceriaan mereka. setiap saya datang, mereka selalu tersenyum lebar dan memanggil nama saya, bahkan ada salah satu anak yang selalu memeluk saya ketika saya datang.
sesampainya saya disana, lantas tidak langsung mengajak mereka belajar tapi mengamati terlebih dahulu apa yang sedang mereka lakukan. Kadang mereka sedang bermain atau sedang makan. setelah beberapa menit, baru saya mengajak belajar. Saya tidak pernah lelah mengingatkan mereka untuk membawa alat tulis. walaupun sudah berulang kali saya ingatkan, mereka tetap saja tidak membawa, hanya dua sampai tiga orang anak saja yang membawa. Saya pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena saya sadar untuk mengubah perilaku itu tidak mudah.
Setelah semua siap, bergegas saya menggiring mereka ke tempat belajar seperti biasa. Kami tidak memiliki tempat belajar yang bagus, bahkan bisa dikatakan jauh dari bagus karena kami hanya belajar di emperan toko yang sudah tutup. saya tidak pernah menyalahkan keadaan atau menyesal, segalanya lagi lagi terbayarkan dengan kemauan dan semangat mereka untuk belajar. Tidak dipungkiri walaupun ada dari mereka yang sudah tidak duduk di bangku sekolah namun kemampuan mereka tidak kalah dengan anak anak lain.
keinginan mereka untuk belajar dan membaca sangat besar, hingga pernah suatu hari waktu belajar kami sudah habis namun masih ada yang ingin belajar bahasa inggris lewat kamus bahasa inggris yang saya pinjami. Saya sadar walaupun mereka dianggap kaum marginal namun mereka juga punya hak mendapatkan pendidikan yang layak. saya berusaha memberikan ilmu yang saya miliki dengan maksimal. tidak hanya belajar yang menjadi hak bagi mereka namun bermain juga menjadi hak mereka yang tidak boleh dirampas. Sehingga kadang saya memberikan permain yang edukatif bagi mereka.
Kadang pekerjaan yang saya geluti ini dianggap orang lain hanya sebelah mata, tapi saya tidak peduli. Asalkan saya masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain, saya akan terus melakukannya. Semangat anak-anak selalu bersinar walaupun kadang banyak halangan yang menghampiri.
Bagi saya mengajar berarti belajar, jadi semangat ini juga akan selalu bersinar bersama semangat anak anak itu.
=D
mulai lah saya berjalan di lorong-lorong pasar yang terasa pengap karena barang-barang pedagang yang tidak sebanding dengan ukuran toko mereka. waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 namun toko belum tutup juga, sempat tersisip rasa khawatir kalau anak sudah berkumpul tapi toko belum juga tutup, lalu kami akan belajar dimana. namun kekhawatiran itu saya tepis, saya terus berjalan dan menyebrang jalan besar lalu berjalan di emperan toko, sampailah di suatu tempat di pinggir sungai sejarah di kota ini. tempat itu hanya sebuah warung kecil, namun anak anak selalu berkumpul di sana. bahkan kadang mereka bermain di pinggiran sungai yang terlihat sangat kotor. Sepertinya bau busuk dari sampah di sungai itu tidak memadamkan kegembiraan mereka untuk bermain. Mereka juga tidur di sekitar sana, kalau warung-warung makan di dekat sana sudah tutup, dibersihkan dan dijadikan tempat untuk beristirahat.
kelelahan berjalan terbayar dengan sambutan keceriaan mereka. setiap saya datang, mereka selalu tersenyum lebar dan memanggil nama saya, bahkan ada salah satu anak yang selalu memeluk saya ketika saya datang.
sesampainya saya disana, lantas tidak langsung mengajak mereka belajar tapi mengamati terlebih dahulu apa yang sedang mereka lakukan. Kadang mereka sedang bermain atau sedang makan. setelah beberapa menit, baru saya mengajak belajar. Saya tidak pernah lelah mengingatkan mereka untuk membawa alat tulis. walaupun sudah berulang kali saya ingatkan, mereka tetap saja tidak membawa, hanya dua sampai tiga orang anak saja yang membawa. Saya pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena saya sadar untuk mengubah perilaku itu tidak mudah.
Setelah semua siap, bergegas saya menggiring mereka ke tempat belajar seperti biasa. Kami tidak memiliki tempat belajar yang bagus, bahkan bisa dikatakan jauh dari bagus karena kami hanya belajar di emperan toko yang sudah tutup. saya tidak pernah menyalahkan keadaan atau menyesal, segalanya lagi lagi terbayarkan dengan kemauan dan semangat mereka untuk belajar. Tidak dipungkiri walaupun ada dari mereka yang sudah tidak duduk di bangku sekolah namun kemampuan mereka tidak kalah dengan anak anak lain.
keinginan mereka untuk belajar dan membaca sangat besar, hingga pernah suatu hari waktu belajar kami sudah habis namun masih ada yang ingin belajar bahasa inggris lewat kamus bahasa inggris yang saya pinjami. Saya sadar walaupun mereka dianggap kaum marginal namun mereka juga punya hak mendapatkan pendidikan yang layak. saya berusaha memberikan ilmu yang saya miliki dengan maksimal. tidak hanya belajar yang menjadi hak bagi mereka namun bermain juga menjadi hak mereka yang tidak boleh dirampas. Sehingga kadang saya memberikan permain yang edukatif bagi mereka.
Kadang pekerjaan yang saya geluti ini dianggap orang lain hanya sebelah mata, tapi saya tidak peduli. Asalkan saya masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain, saya akan terus melakukannya. Semangat anak-anak selalu bersinar walaupun kadang banyak halangan yang menghampiri.
Bagi saya mengajar berarti belajar, jadi semangat ini juga akan selalu bersinar bersama semangat anak anak itu.
=D
Minggu, 13 Maret 2011
Indahnya bersama mereka
Mungkin ini adalah pengalaman pertama saya mengajar, tapi bukan sembarang mengajar., saya ditugaskan untuk mengajar anak jalanan. Awalnya sempat takut dan ragu apakah saya bisa mengajar anak-anak jalanan. Dalam bayangan saya anak jalanan itu semrawut, nakal, dan sulit untuk diatur.Namun karena keinginan saya lebih besar dibandingkan ketakutan saya, maka saya menerima pekerjaan itu. Hanya relawan tutor, iyah saya hanya relawan tutor bukan seorang guru. tetapi saya ingin mengajar mereka dan saya ingin melihat mereka cerdas seperti anak-anak lain.
Hari pertama mengajar masih sepi karena memang saya belum tahu situasi, namun hari berikutnya saya tidak mengalami banyak kesulitan. Hanya saja, saya harus jemput bola alias menjemput mereka untuk belajar. Sempat takut juga karena saya akan memasuki lingkungan mereka tapi lagi-lagi keinginan saya lebih besar dari ketakutan saya maka saya berjalan sendiri untuk mencari mereka. saya giring juga mereka ke rumah pintar, rumah tempat belajar anak jalanan yang lokasinya tidak cukup jauh dari tempat saya mengajar.
Beberapa kali mengajar ternyata saya merasakan sesuatu yang berbeda. mereka hanyalah kaum marginal yang kadang diabaikan orang lain, namun mereka tetap seorang anak yang memiliki hak untuk bermain dan belajar yang layak. rasa haru saat mengajar itu muncul, semangat mereka ternyata tidak kalah dengan semangat anak-anak lain. keantusiasan mengerjakan soal yang saya berikan muncul dalam diri mereka. Bahkan sesekali waktu mereka tidak mau berhenti untuk belajar padahal waktu sudah habis. Subhanallah, saya tahu sebenarnya mereka juga ingin belajar layak seperti anak-anak lain namun apa daya mereka dalam keterbatasan.
Suatu waktu saya pernah mengobrol dengan salah satu anak, namanya indah. Dia gadis kecil yang sekarang duduk di kelas 4 SD. Pertama kali saya ajak dia belajar, dia tidak menolak bahkan sangat antusias. Masih teringat dalam benak saya, materi yang saya berikan adalah tentang cerita rakyat. saya menceritakan tentang kisah kebo iwa dari bali. dan kemudian dia menyambung dengan cerita rakyat lain yang pernah ia baca di perpustakaan sekolahnya. Sesekali saya menyisipkan pesan moral dalam cerita rakyat tersebut. Kemudian indah menyambung kembali cerita rakyat yang pernah dia lihatnya di televisi. walaupun sekedar menumpang untuk menonton televisi di toko namun dia begitu paham cerita rakyat yang disiarkan di salah satu televisi swasta itu.
Tidak jauh berbeda, adik indah yang bernama slamet juga tidak kalah semangatnya untuk belajar. Dia selalu senang dengan perkalian dan penambahan. bahkan dia mengatakan “ mbak, saya sangat suka perkalian” walaupun kenyataannya dia belum bisa. Saya mengajarinya dan dalam waktu singkat dia sudah pandai berhitung perkalian. lain lagi dengan yatin, anak laki-laki kecil yang memiliki perawakan besar namun masih duduk di kelas 1 SD. Dia tidak sepandai teman-temannya, dia kesulitan untuk berhitung perkurangan dan menulis. Dia tipe anak yang mudah bosan untuk belajar, melihat hal itu saya tidak memaksa dia untuk belajar terus menerus. Saya membiarkan dia melakukan apapun yang dia sukai. kadang saat melihat teman-temannya yang sibuk mengerjakan soal, keinginan dia untuk belajar mulai nampak kembali. Terkadang dia juga suka menganggu teman-temannya saat belajar, saya berpikir kenapa dia selalu menganggu? lambat laun saya mendapatkan jawaban bahwa sebenarnya yatin ingin diperhatikan lebih dari anak yang lain. Saya juga tahu sebenarnya dia ingin belajar lebih banyak.
Saya teringat saat awal bertemu dengan yatin. Dia anak yang sangat nakal, susah untuk diatur. namun setelah mengenalnya dia ternyata anak yang mudah untuk diatur. bahkan saya dipanggilnya “mbak pesek”. saya tidak marah karena saya tahu itu adalah bentuk penggilan sayang mereka untuk saya. dan ternyata memang benar!!!walaupun mereka memanggil saya dengan sebutan mbak pesek tetapi di setiap kehadiran saya, mereka selalu menyambut dengan gembira bahkan minta gendong.
Masih banyak cerita yang begitu berkesan saat mengajar mereka, walaupun masih dalam jangka waktu satu bulan saya mengerti bahwa sebenarnya pendidikan layak sangat didambakan oleh mereka. saya akan berjuang sekuat saya untuk memberikan pendidikan kepada mereka. saya ingin mereka juga dapat merasakan indahnya pendidikan sebagai kebutuhan dalam hidup mereka bukan semata-mata hanya sebagai hiasan dalam hidup. Apa yang saya rasakan ini seperti permen nano-nao, ada manis asem asin... tetapi tetap rame rasanya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk berbagi ilmu kepada mereka. amin.
Kamis, 10 Februari 2011
Bolehkah Tuhan?
Tuhan bolehkah saya menangis?
Tuhan bolehkah saya lelah?
Tuhan bolehkan saya penat?
Tuhan bolehkah saya lemah?
Tuhan bolehkah saya marah?
Tuhan bolehkah saya kecewa?
Tuhan bolehkah saya sakit hati?
Tuhan bolehkah saya rapuh?
Tuhan bolehkah?bolehkah?bolehkah?
Itu yang selalu ada dalam pikiran saya ketika saya sudah tidak mampu berdiri sendiri. Saya bukannya ingin mengeluh tapi saya ingin meluapkan sesuatu yang selama ini berusaha untuk tidak diluapkan karena saya sadar semua itu adalah hal negatif yang membuat hidup semakin terpuruk.
tapi saya sadar saya hanya manusia biasa yang tak mampu berdiri berjalan bahkan berlari sendiri, saya butuh Tuhan untuk menemani setiap waktuku. terlalu lemah dan rapuh ketika harus melakukannya sendiri.
Saya butuh Tuhan untuk menguatkan aku, butuh Tuhan untuk mengarahkanku. saya berusaha menjadi terbaik dan melakukan yang terbaik walaupun kadang harus jatuh bangun untuk berusaha.
Tuhan kuatkan aku
Tuhan tuntunkah aku
Tuhan terangi aku
Tuhan jernihkan aku
Tuhan temani aku
Tuhan jagalah imanku
Tuhan tambahkan imanku
Tuhan luruskan imanku
Tuhan selalu bersamaku yaaa...:)
Tuhan bolehkah saya lelah?
Tuhan bolehkan saya penat?
Tuhan bolehkah saya lemah?
Tuhan bolehkah saya marah?
Tuhan bolehkah saya kecewa?
Tuhan bolehkah saya sakit hati?
Tuhan bolehkah saya rapuh?
Tuhan bolehkah?bolehkah?bolehkah?
Itu yang selalu ada dalam pikiran saya ketika saya sudah tidak mampu berdiri sendiri. Saya bukannya ingin mengeluh tapi saya ingin meluapkan sesuatu yang selama ini berusaha untuk tidak diluapkan karena saya sadar semua itu adalah hal negatif yang membuat hidup semakin terpuruk.
tapi saya sadar saya hanya manusia biasa yang tak mampu berdiri berjalan bahkan berlari sendiri, saya butuh Tuhan untuk menemani setiap waktuku. terlalu lemah dan rapuh ketika harus melakukannya sendiri.
Saya butuh Tuhan untuk menguatkan aku, butuh Tuhan untuk mengarahkanku. saya berusaha menjadi terbaik dan melakukan yang terbaik walaupun kadang harus jatuh bangun untuk berusaha.
Tuhan kuatkan aku
Tuhan tuntunkah aku
Tuhan terangi aku
Tuhan jernihkan aku
Tuhan temani aku
Tuhan jagalah imanku
Tuhan tambahkan imanku
Tuhan luruskan imanku
Tuhan selalu bersamaku yaaa...:)
Langganan:
Postingan (Atom)